ad

Berita Terbaru

recentposts

Degradasi Moralitas Pelajar Hindu dalam Memaknai Hari Raya Siwaratri

Pelajar merayakan siwalatri, dokumentasi penulis

Perayaan hari raya Siwaratri di Bali khususnya, sering sekali menjadi suatu moment yang begitu penting bagi seluruh umat Hindu. Hal ini dikarenakan hari raya Siwaratri, jatuh setiap satu tahun sekali. Perayaan hari raya Siwaratri identik dengan acara persembahyangan yang  dilakukan oleh umat Hindu, baik dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tua. Begitu pula halnya di setiap sekolah baik dari tingkat TK, SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi pasti ada pelaksanaan upacara persembahyangan bersama bagi umat Hindu.

Sekarang ini di zaman kali yuga, yang ditandai dengan semakin banyaknya kejahatan yang merajalela dibandingkan dengan kebaikan. Sebagian besar dari pelajar, sering sekali memanfaatkan momen-momen perayaan hari siwaratri dengan hal-hal yang menyimpang. Hari raya siwaratri merupakan simbol sebagai hari suci bagi Umat Hindu khususnya di Bali dan pada umumnya di Indonesia.Perayaan hari suci siwaratri ini juga dirayakan dengan berbagai kegiatan seperti mengadakan kegiatan diskusi sastra (rembug sastra), malam siwaratri yang membahas akan makna penting yang terkandung di dalamnya. Agar tidak nantinya, perayaan hari siwaratri hanya dijadikan simbol untuk ajang kegiatan remaja sekarang ini yang terlalu banyak menyimpang dari makna siwaratri itu sendiri.

Secara ontologi, pengertian simbol dan simbolisasi bersifat dikotomis.Perspektif pertama, simbol dan simbolisasi berkaitan dengan yang imanen, dalam arti yang disatukan adalah yang ada dalam manusia saja. Selain itu simbol adalah suatu hal atau keadaan yang merupakan pengantaraan pemahaman terhadap objek. Manifestasi serta karakteristik simbol tidak terbatas pada isyarat fisik, tetapi dapat juga berwujud penggunaan kata-kata (suara). Simbol berfungsi untuk memimpin pemahaman subjek kepada objek. Dalam makna tertentu, simbol acap kali memiliki makna mendalam, yaitu suatu konsep yang paling bernilai dalam kehidupan suatu masyarakat.Begitu halnya dengan perayaan siwaratri, jika banyaknya pelajar Hindu yang memaknai bahwa perayaan siwaratri hanya sebagai simbol untuk melakukan kegiatan begadang semalaman suntuk tanpa merenungkan makna-makna yang terkandung di dalamnya sama saja tidak ada artinya perenungan tersebut alias sia-sia.

Alangkah baiknya, jika perayaan hari suci siwaratri selalu diadakan kegiatan malam siwaratri, yang tiada henti-hentinya untuk terus membahas makna-makna yang terkandung dalam hari raya siwaratri tersebut. Hal ini bertujuan untuk selalu mengingatkan pada pelajar Hindu, untuk eling dan paham secara sungguh-sungguh apa makna dari perayaan siwaratri tersebut.

Jika, melihat fenomena sosial atau realitas sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat, sebagian besar pelajar Hindu, keliru merayakan siwaratri dengan teman, ataupun pacarnya dengan berpergian ke pura untuk sembahyang kemudian begadang dan pagi-pagi pergi menuju pantai. Memang benar jika hari raya siwaratri identik dengan persembayangan, kemudian melaksanakan jagra (begadang semalam suntuk), namun begadang untuk hal apa?.Di sinilah perlunya mengkritisi hal-hal seperti demikian, agar tidak perayaan siwaratri menjadi sebuah simbol ajang pelajar Hindu hanya untuk begadang semalaman suntuk saja.Makna begadang (jagra) tersebut, tentu ada filosofinya. Begadang atau tidak tidur dalam melaksanakan jagra itu bertujuan untuk merenungi hal-hal ataupun perbuatan kita yang tidak benar/keliru yang pernah kita lakukan, agar nantinya dari kesalahan tersebut, bisa belajar dan minimal tidak lagi mengulang perbuatan adharma yang pernah dilakukan. Dengan jalan apa? Banyak cara yang dapat dilakukan diantaranya, mulai untuk mengendalikan emosi atau kemarahan yang ada di dalam diri setiap manusia. Manusia terlahirkan di dunia ini telah memiliki musuh, dan musuh yang paling besar bagi manusia adalah dirinya sendiri.

Perayaan hari suci siwaratri akan lebih berguna dan bermakna bagi diri pelajar, apabila pelajar dapat menyadari akan maknanya. Tidak mencari sebuah kesempatan dalam kesempitan. Jika tidak dimulai dari diri sendiri untuk sadar, kemungkinan sulit untuk berubah menjadi yang baik. Perlunya, kesadaran yang tumbuh dari hati nurani sendiri. Jika, pelajar telah meyadari akan hal itu, maka ke depan setiap perayaan hari raya siwaratri tidak akan ada pelajar-pelajar Hindu yang bersikap atau pun bertindak yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Contoh: banyaknya pelajar SMP dan SMA yang merayakan siwaratri dengan temannya ke Pura, bagi yang laki-laki mengenakan kamen dan saput yang terlalu tinggi intinya cara berpakaian/ berbusana adat yang mengikuti trend masa kini. Begitu halnya dengan yang wanita, menggunakan kamen yang tinggi, ketika berjalan tidak jarang kaki sampai lutut terlihat, belum lagi pakaian kebaya yang terlalu transparan, inilah yang menjadi masalah sekarang di pelajar Hindu. Belum lagi, tujuan mereka sembahyang ke pura hanya sebentar saja dan lebih banyak untuk sekedar nongkrong, makan-makan bersama dan juga mencari pasangan lawan jenis. Itulah fenomena yang sebagian besar terjadi sekarang.

Semoga ke depan untuk tahun-tahun yang akan datang, momen perayaan siwaratri benar-benar menjadi sebuah hari suci sebagai perenungan setiap umat Hindu untuk menjadi lebih baik dalam berbicara, bersikap ataupun berpikir (Tri Kaya Parisudha). Selain itu juga, tumbuhnya kesadaran para pelajar Hindu, untuk paham akan pentingnya pelaksanaan hari suci siwaratri. Bukan hanya sekedar dimaknai untuk begadang, dan dengan begadang dapat menghapus ataupun menebus semua dosa yang pernah dilakukan. 

Maka dari itu, pembahasan dan penyampaian materi dalam setiap malam renungan siwaratri harus terus diberikan secara berulang-ulang dan lebih diperjelas maknanya sehingga pelajar dapat paham dan hatinya tersentuh hingga tumbuhnya kesadaran dari dirinya sendiri untuk benar-benar dalam merayakan hari suci siwaratri.



dayu purnamaningsih
Ida Ayu Purnamaningsih
Penulis adalah mahasiswi S2 jurusan Ilmu Komunikasi Hindu di Pasca Sarjana IHDN Denpasar, aktif dan hobi menulis di beberapa majalah dan juga aktif sebagai Ketua Peradah Bali periode 2015-2018. Korespondensi bisa di Facebook dan kunjungi juga  Blog Purnama.
Degradasi Moralitas Pelajar Hindu dalam Memaknai Hari Raya Siwaratri Reviewed by Adi Wirawan on January 19, 2016 Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by YouthMagz ©2016|Developed by Acyutamedia

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.