ad

Berita Terbaru

recentposts

Hentikan Gerakan Porno Aksi dalam Tarian Profan Joged di Bali

joged bumbung bali
Hanya ilustrasi joged bumbung, via infoobjek.files.wordpress.com

Permasalahan seni dan budaya di Bali, menjadi suatu topik yang tidak akan henti-hentinya untuk dapat dibahas. Bali yang merupakan sebuah pulau kecil yang terkenal hingga ke pelosok negara, disebabkan karena kaya akan kesenian yang dimilikinya. Salah satu kesenian Bali yang paling terkenal yakni tari Bali. 

Berbicara tentang tarian di Bali dapat dikelempokkan menjadi 2 jenis diantaranya tari sakral dan tari profan. Tari sakral adalah sebuah tarian yang dipentaskan pada saat adanya upacara-upacara keagamaan yang berfungsi sebagai sarana jalannya upacara tersebut. Sedangkan tarian profan adalah sebuah tarian yang dipentaskan bertujuan untuk hiburan ataupun sebagai sebuah penghormatan bagi tamu-tamu agung yang datang atau berkunjung ke Bali dalam sebuah acara atau perhelatan yang agung. Tarian profan ini seiring berkembangya zaman modern dan kerasnya pengaruh teknologi mengakibatkan tarian profan juga mengalami degradasi baik dalam gerakan tariannya hingga mengalami perubahan makna yang menjadi negatif. Salah satu contoh dari tarian profan ini adalah tarian joged.

Di Bali tarian joged begitu terkenal dan sangat digemari oleh masyarakat Hindu. Tarian joged adalah suatu tarian pergaulan (social dance) yang sangat populer. Tarian ini biasanya digelar atau dipentaskan pada saat musim-musim panen, hari raya serta hari-hari yang bersenang-senang lainnya. Baik itu pesta, ada pelaksanaan upacara pernikahan, syukuran dan lain-lain. Tarian joged merupakan tarian yang berpasangan, antara laki-laki dan perempuan dengan mengundang partisipasi penonton yang natinya ikut menari dalam tarian joged tersebut. Tarian Joged, begitu diminati oleh masyarakat Bali pada umumnya namun, perlahan makna yang tersirat positif menjadi kian negatif. Gerakan tarian joged yang awalnya dianggap sebagai perpaduan karya seni dalam bentuk gerakan tubuh, sekarang sudah menjadi gerakan porno aksi. Tidak heran, jika sekarang banyak sekali sekaa joged yang mementaskan tariannya yang begitu fullgar, baik dari caranya berpakaian ataupun gerakannya yang semakin menjadi-jadi. 

Dalam segi busana joged sekarang ini, sebagaian besar  pakaian dan kain yang digunakan telah berubah drastis. Tidak banyak lagi ciri khas budaya Bali yang dapat dibanggakan, kain (kamen) yang begitu indahnya dipakai dengan rapi yang menutupi mata kaki, justru sekarang kamen tersebut dipakai di atas lutut bahkan sampai ke atas paha. Begitu juga dengan gerakan tubuhnya yang memperlihatkan gerakan-gerakan porno, seperti memeluk laki-laki pasangan yang diajaknya menari bahkan sampai menciumnya. Sebenarnya hal ini tidak perlu sampai dipublikasikan ke masyarakat sosial dengan rekaman video, yang kemudian di-upload/di-share ke jejaring sosial. Jelas hal ini tentu mencoreng tarian joged di Bali. Di mana yang dulunya tarian joged begitu dikagumi dan sekarang cenderung dicemoh oleh masyarakat luar, hal ini sangat memalukan. Masyarakat Bali harus sadar akan hal ini. Jika terus dibiarkan, tanpa adanya tindakan yang tegas dari masyarakat Hindu di Bali, tentunya tarian joged hanya dijadikan sebagai sebuah tontonan dan hiburan yang rendah. Bertujuan untuk dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang lebih banyak dibandingkan dengan mempertahankan makna tarian joged yang sesungguhnya. 

Tarian joged di zaman modern ini yang keras dipengaruhi oleh berbagai hal negatif, membawa dampak yang sangat signifikan juga  bagi perkembangan mentalitas generasi muda dan anak-anak. Mengapa demikian? Tidak dapat dipungkiri jika masalah gerakan tarian joged yang lebih banyak menonjolkan gerakan porno aksi, dan hal ini secara langsung dilihat dengan mata telanjang oleh anak-anak ataupun generasi muda Hindu, tentu akan berpengaruh terhadap perkembangan mentalitas anak tersebut. Apa yang dilihat/disaksikan oleh anak-anak maka akan cepat sekali ditiru dan dipraktikkan. Jika yang dilihatnya adalah sebuah tarian joged dengan gerakan yang sopan dan sewajarnya sesuai dengan makna tarian joged sesungguhnya, maka akan didapatkannya sebuah inspirasi yang positif di dalam dirinya. Tetapi, sebaliknya jika hal yang dilihat dalam setiap pementasan tarian joged di Bali cenderung lebih banyak menampilkan gerakan porno aksi, maka tidak menutup kemungkinkan akan terjadinya hal-hal negatif pada generasi muda Hindu bahkan anak-anak. Hal negatif tersebut berdampak pada perkembangan mentalitas dan moralitasnya serta berpengaruh terhadap perilakunya sehari-hari.

Semua permasalahan yang ditimbulkan akibat gerakan tarian joged yang semakin menonjolkan ataupun memprioritaskan porno aksi, jelas merugikan. Di samping itu, gerakan porno aksi tersebut juga dapat menurunkan citra tarian joged menjadi lebih rendah dibandingkan dengan tarian-tarian joged terdahulu. Orang bali mengatakan "taksu", nya sudah mulai memudar dan lama-lama akan hilang tergerus oleh zaman yang semakin modern. Lalu apa yang dapat dilakukan sekarang untuk mencegah semua itu? 


 Untuk dapat menyelamatkan dan melestarikan tarian joged di Bali ini adalah dengan cara, tidak memberikan izin dalam bentuk apapun jika ada yang ingin mementaskan joged dengan gerakan-gerakan porno aksi. Tidak ada suatu alasan apapun yang dapat memberikan pementasan tarian joged demikian. Tindakan tegas yang utama!



purnama
Ida Ayu Purnamaningsih
Penulis adalah mahasiswi S2 jurusan Ilmu Komunikasi Hindu di Pasca Sarjana IHDN Denpasar, aktif dan hobi menulis di beberapa majalah dan juga aktif dalam organisasi, sekarang menjabat sebagai Ketua Peradah Provinsi Bali periode 2015-2018. Korespondensi bisa di Facebook dan kunjungi juga  Blog Purnama.
Hentikan Gerakan Porno Aksi dalam Tarian Profan Joged di Bali Reviewed by Adi Wirawan on January 06, 2016 Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by YouthMagz ©2016|Developed by Acyutamedia

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.