ad

Berita Terbaru

recentposts

"Maceki" Bolehkah Dilakukan Saat Merayakan Hari Raya Nyepi?



Perayaan nyepi
gambar: citraindonesia.com


Perayaan hari raya nyepi dalam agama Hindu, menjadi suatu hari raya yang besar bagi umat Hindu karena jatuhnya setiap satu tahun sekali. Hari suci nyepi merupakan hari untuk memperingati perayaan tahun baru caka. Bagi masyarakat Hindu di Bali, hari raya Nyepi, menurut mereka, bahwa hari nyepi tersebut identik dengan tidak keluar rumah seharian. Sehari setelah hari raya ngerupuk yang dimeriahkan dengan mengarak ogoh-ogoh di jalan, tujuan dari hal ini adalah untuk menyomya bhutakala, sehingga banyak ogoh-ogoh yang dibuat oleh kalangan generasi muda yang menyerupai bhutakala. Ogoh-ogoh tersebut dapat menunjukkan kepada kita bagaimana bentuk/wujud dari bhutakala yang menyeramkan tersebut, pada hari Pengrupukanlah, berbagai jenis bhutakala akan berkumpul dalam pengarakan ogoh-ogoh. Sebelum esok dilaksanakannya hari raya suci Nyepi. Pada perayaan hari raya Nyepi yang jatuhnya pada tilem kapitu sasih kesanga, hari tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh umat Hindu, untuk instrospeksi diri ke dalam/kembali pada jati diri sendiri (mulat sarira). Hari raya Nyepi memberikan kesempatan bagi setiap umat Hindu untuk dapat merenung atas apa yang telah dilakukannya selama ini. Baik itu perbuatan yang baik ataupun buruk. Di hari raya Nyepi manusia seharusnya dapat memanfaatkan kesempatan ini degan baik.
Berdasarkan keyakinan (sradha) umat Hindu di Bali, dalam merayakan hari raya Nyepi, diharapkan mampu dan sanggup untuk melaksanakan Catur Bratha Penyepian.   Namun, melihat berbagai fenomena sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat Bali, justru hari raya suci Nyepi dimanfaatkan untuk melaksanakan kegiatan/aktivitas lain, yang identik dengan "hari untuk "maceki" seharian. Justru hal ini jauh menyimpang dari Catur Bratha Penyepian. Memang "maceki" dapat dijadikan sebagai suatu hiburan oleh masyarakat Hindu di Bali. Namun, dalam pelaksanaan hari raya Nyepi, tidaklah pantas untuk digelar "maceki" tersebut. Pernahkah bagi mereka umat Hindu yang kurang paham dalam makna yang terkandung dalam perayaan hari Nyepi, bertanya ke dalam dirinya sendiri. Apakah pantas "maceki" dilaksanakan pada saat hari raya suci Nyepi? Jika masyarakat tahu akan "maceki", tidak pantas atau kurang tepat dilaksanakan pada saat hari raya Nyepi, mengapa dari tahun ke tahun masih saja terulang kejadian tersebut?. Jangan salahkan umat lain, ketika nanti umat Hindu, dikatakan tidak bisa menghargai hari rayanya sendiri. Itulah fenomena yang terjadi saat ini, bahkan dari tahun-tahun sebelumnya.
Sebenarnya umat Hindu paham akan hal ini, namun masih saja ada satu diantara mereka yang tidak mau merubah kebiasaan hal tersebut. Kegiatan "maceki" termasuk permainan judi yang meggunakan uang. Dampak dari permainan judi "maceki", ini akan memberikan kesenangan bagi pemainnya yang menang dan tentutnya membuat kecewa, sedih, atupun tidak puas jika pemainnya kalah. Jika umat Hindu, masih mentolerir hal ini, pada setiap hari raya Nyepi, lama-kelamaan kegiatan "maceki", akan menjadi suatu hal yang wajib ataupun biasa dilakukan untuk merayakan hari suci Nyepi. Parahnya lagi, hal ini akan ditiru nantinya oleh para generasi muda, yang kurang memiliki pemahaman dan kesadaran akan makna-makna penting yang terkandung dalam hari raya Nyepi. Jika sudah seperti ini siapa yang patut disalahkan? Maka dari itu, hal utama yang terpenting adalah dapat menumbuhkan kesadaran dari dalam diri sendiri, mulai untuk "mulat sarira", introspeksi diri ke dalam.
Tapi apakah sebenarnya makna yang terkandung dalam hari raya Nyepi?. Bagaimanakah umat Hindu di Bali dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian? dan apa tujuan dari pelaksanaan hari raya Nyepi?. Catur Brata Penyepian secara mendasar berarti empat pantangan yang harus dijalankan oleh umat Hindu dalam rangka menyambut tahun baru caka yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Keempat Catur Brata Penyepian dalam etika upacara Nyepi yang bertujuan untuk pengendalian diri ini, terdiri dari : (1) Amati Geni, yang berarti tidak melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan menghidupkan api, termasuk tidak menyalakan lampu pada malam hari saat Nyepi ataupun begadang menonton TV. (2) Amati Lelanguan, untuk mulat sarira atau mawas diri, (3) Amati Karya berarti tidak melakukan aktifitas ataupun kegiatan pekerjaan dan evaluasi diri dalam kaitan dengan karya (kerja menurut swadharma masing-masing) merenung hasil kerja dalam setahun. Apa hasil yang telah diperoleh selama setahun, apakah ada hal yang harus diperbaiki untuk lebih meningkatkan hasil pekerjaan, ataupun  hal-hal yang harus dikurangi atau diperbaiki jika ada kekeliruan. Semua itu didapat dari hasil perenungan dalam diri sendiri. (4) Amati Lelungan/lelungaan berati tidak berpergian ke luar rumah. Ini berarti, berusaha untuk mengendalikan diri atau hawa nafsu agar tidak berpergian keluar rumah. Seperti, di jalan ataupun didepan teras rumah sekedar untuk duduk bersama, bercerita, ataupun mencort-coret jalanan yang sepi. Hal itu tidak patut untuk dilakukan.
Keempat bagian dari Catur Brata Penyepian tersebut hendaknya dapat dijalankan oleh umat Hindu berdasarkan keyakinanya dan penuh dengan kesungguhan hati. Jika tidak mampu untuk menerapkannya semua, minimal ada satu ataupun dua bagian yang dapat dilaksanakan dengan baik. Membiasakan diri untuk dapat menerapkan ajaran-ajaran Agama Hindu, merupakan suatu tindakan yang sangat mulia (swadharma terhadap agama Hindu) untuk menjalankan kehidupan di dunia ini. Dalam memaknai Catur Brata Penyepian sebagai tuntutan pelaksanaan Nyepi ini, ada kalanya kita diam, tidak melaksanakan ataupun mengerjakan pekerjaan, kemudian merenungi diri dan melakukan evaluasi ke dalam diri sendiri atas segala tindakan yang telah dilakukan. Pada akirnya kita akan kembali lagi untuk beraktivitas ditengah hiruk pikuknya dunia sebagai manusia yang baru dan juga sudah dibekali dengan kesadaran Baru. Dalam hal ini, berarti umat Hindu yang sebelumnya pernah melakukan kesalahan ataupun perbuatan yang tidak baik, untuk kedepannya minimal mereka tidak mengulangi lagi kesalahan pada hal yang semula. Begitu juga sebaliknya dengan  "maceki", jika maceki tersebut tidak benar atau tidak tepat untuk dilakukan pada saat perayaan Nyepi, untuk tahun berikutnya janganlah diulang kembali.
Mari bersama-sama untuk saling mengingatkan, untuk kesadaran baru yang kita peroleh dari diri sendiri. Jika setiap umat Hindu dengan sungguh-sungguh menjalankan hari raya Nyepi, melalui Catur Brata Penyepian ini, maka akan terciptanya kehidupan masyarakat Hindu di Bali menjadi lebih baik, damai, dan sejahtera. sekian dan terimakasih...rahayu...:)



dayu purnamaningsih
Ida Ayu Purnamaningsih
Penulis adalah mahasiswi S2 jurusan Ilmu Komunikasi Hindu di Pasca Sarjana IHDN Denpasar, aktif dan hobi menulis di beberapa majalah dan juga aktif sebagai Ketua Peradah Bali periode 2015-2018. Korespondensi bisa di Facebook dan kunjungi juga  Blog Purnama.
"Maceki" Bolehkah Dilakukan Saat Merayakan Hari Raya Nyepi? Reviewed by Adi Wirawan on March 07, 2016 Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by YouthMagz ©2016|Developed by Acyutamedia

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.